CERPEN : Cinta Putih Abu-Abu

Hidup adalah sebuah pilihan.Sepenggal kalimat yang tak aku suka. Tapi aku tak pernah bisa untuk menyangkalnya dan tak pernah punya kalimat yang tepat untuk mendebatkannya. Bukan pilihan??aku juga salah. Terkadang aku berfikir dan sadar benar kalau itu memang begitu adanya. Bahkan tak memilih-pun adalah sebuah pilihan dalam hidup….right??Hey…adakah yang bisa merevisi ulang??
^^

Seorang tante-tante yang mendaulat dirinya sebagai ahli perawatan kulit wajah mendemonstarsikan cara-cara membuat masker alami ala dirinya sendiri didepan para hadirin yang duduk dan melihatnya dengan tatapan aneh dan kagum. Putih telur dari sebutir telur ayam jawa,se-sendok tepung, madu dan campuran berbagai bahan berwarna hijau yang entah apa namanya. Ia mengaduknya dengan sedikit bumbuan egolan pantatnya yang sebenarnya sangat tak berbentuk, bahkan cenderung kotak. Entah ia sedang membuat masker atau adonan kue.
Terlihat cekatan ia mengoleskan masker itu kewajah ibu-ibu yang menjadi sukarelawannya. Sementara ibu-ibu lainnya mendekat untuk melihat proses pengolesan.Rana mengernyitkan dahi,memandang Claudy dan aku  yang berada disampingnya. Kami saling berpandangan,aneh.Begitulah,Rana dan Claudy adalah sahabatku. Rana,gadis feminim yang……..cantik!!! baginya,hidup itu memang sebuah pilihan. Untuk memilih,mana cowok yang paling perfect untuknya. Ya….itu pilihan memang.Claudy lain lagi,ia begitu rendah diri. Ia tak begitu cantik,dan itu membuatnya sangat tak percaya diri. Dua pilihan dalam hidupnya,terjatuh dan menyerah atau bangkit dan terjatuh lagi.Bosan melihat tingkah aneh para ibu-ibu centil kompleksku, kami memutuskan untuk hengkang dan beralih ke kegiatan eksklusif nan erotis kami,you know what?? Just kongkow sambil nge-gossip plus ajojing ngeliat cowok cakep sliwar-sliwer di depan mata.Yeah,cara klasik yang mayar untuk menghilangkan penat barang sejenak tanpa harus mengeluarkan duit. Kalaupun harus mengeluarkan duit,mungkin hanya untuk ganjalan perut kami,sebungkus “salad jawa”  yang orang jawa biasa menyebutnya pecel saja sudah cukup..atau mungkin dua bungkus.
Cara enjoy our life ala anak sekolahan yang masih ngathong ke ortu tiap mau berangkat sekolah.Sekitar satu-dua jam kami bisa bertahan disitu. Tapi lain lagi kalau sepi gebetan dan kantong sudah cekak pula,bisa lama….Bersantai ria tanpa harus memikirkan Pe-Er yang bejibun,tugas-tugas dan rumus-rumus serta tuntutan untuk masuk ke jurusan pilihan,memang world paradise…..“Niko…” Claudy menyodorkan ponselku,ada pesan dari Niko.Segera kusambar sebelum dia membuka dan membacanya. Berharap dia mengatakan kata-kata yang diagung-agungkan para penyair dipelosok dunia.CINTA. Oouwh,just my imagine…Tapi seketika harapan itu pupus bak tulisan di pantai yang pasti terhapus ombak…hilang.Lemaslah aku. Bahkan kata itu tak muncul juga walau lewat pesan sekalipun. Come on Niko,tak taukah kau sudah berapa lama aku menunggumu tanpa kepastian??tiga bulan. Bukan waktu yang lama memang,tapi cukup untuk membuat player sepertiku insyaf. Dan lucunya,kenapa harus cowok seperti ini yang membuatku berhenti memainkan perasaan cowok yang bahkan dulu menjadi hobiku. Sepertinya Tuhan mempunyai rencana besar untukku.Melihatku yang manyun,Rana mendekat dan bertanya sambil melirik isi pesan Niko.“apa?” tanyanya padaku,matanya tak henti melirik layar ponselku.
“Sorry Izza….aku gak bisa hubungi kamu akhir-akhir ini. Handphoneku troblem, alias trouble and problem…” kutirukan gaya Niko saat bicara sambil membaca pesannya. Tak lupa seulas senyum kusisipkan,sebagaimana Niko yang selalu,selalu dan selalu tersenyum ketika bertemu dan berbicara denganku.Dua manusia dihadapanku itu seakan tak mengerti penderitaan sahabatnya ini,hiks-hiks-hiks…. Keduanya malah tertawa cekikikan.Setelah puas tertawa,Claudy menepuk pundakku.
“Sabar buk…” katanya dengan gaya sok sabar bak bu Haji itu. Menyebalkan,sedangkan Rana masih terus menertawakan ku.Begitu tawanya reda,Rana menghampiriku dan menepuk pundakku.
“Izza…yang namanya kurma itu masih ada,dan di depan mata kamu sekarang. Makanya,jangan jadi manusia  yang suka mainin perasaan manusia-manusia lainnya..”
Rana berpetuah seolah tanpa dosa setelah capek ketawa.”Ingat kurma Sob,kurma.. itu ada dan nyata!!!”“Itu KARMA, Na. bukan KURMA.”
“Lhoh,sudah dirubah ya?”Dengan blo’onnya ia bertanya.“Rana….please deeehh..” Claudy meraih buku didepanku dan menimpuk Rana.Aku hanya tersenyum saja sambil melirik Rana yang melengos,pura-pura tidak mendengar. Bocah setengah “sakit” itupun kembali berpetuah,tapi kali ini dengan ibu-ibu sukarelawan “masker aneh” yang melintas didepan rumahnya.Sepertinya dia bergossip,terlihat dari caranya berbicara yang seperti presenter-presenter  infotainment di Tipi-Tipi.“Message from kak Benny…..” Claudy setengah berteriak kearah Rana.Rana segera saja berlari kearah ponselnya dan segera menyambarnya dari genggaman Claudy. Nafasnya masih ngos-ngosan,ia membacanya dengan penuh nafsu.
Claudy hanya menggeleng.Rana tersenyum membaca pesan di ponselnya. Lalu kelihatan berfikir sejenak,berpaling kearahku. Seperti mendapatkan ide.Dengan wajah bersemangat ia mengangkat tangannya sambil berkata padaku dan Claudy.”Liburan jalan bareng yuk,kemana gitu” ajak Rana yang notabene memang master of hang out.Kujawab ajakan Rana dengan pergi begitu saja tanpa memperdulikan ucapannya selajutnya. Tanda tak setuju. Claudy pun mengekor langkahku.Bagus,dua lawan satu. Berarti tak akan ada hang out saat liburan.
^^
Siang yang panas. Ditambah lagi otakku yang mulai berkontraksi dengan sejuta rumus-rumus dihadapanku. Sungguh,pelajaran fisika selalu menguras pikiran,tenaga bahkan keringatku disetiap detiknya.Aku tak bisa membayangkan bagaimana seorang Einstein bisa dengan mudah menjabarkan dan menemukan ribuan rumus yang bahkan seperti mencuci otakku hingga panasnya melebihi suhu bumi tertinggi.. apa berlebihan yang ku katakan??mungkin ya,tapi begitulah…Pukul satu siang!!!!!Dan bel telah menyelamatanku,ahaa….kini aku bisa lega.Seperti biasa,aku menunggu dua orang manusia yang selalu menemaniku,dan seperti biasa pula aku selalu dibiarkan begitu saja terjemur didepan kelas yang bahkan tak ada satupun pepohonan rindang yang dapat menepis panas walau sedikit. Hanya ada rentetan bunga Geramani yang merunduk menahan butiran benihnya yang terlampau banyak. Apa aku harus berteduh dibawahnya??huumph….Limabelas menit kemudian datanglah dua anak Hawa yang melenggang tanpa rasa bersalah. Sebal..!!!Di belakang mereka tampak seorang laki-laki berkulit putih bersih yang berjalan tanpa mengangkat kepalanya,seolah ada beban yang ia tumpukkan pada kepalanya yang membuatnya selalu menunduk.  Aku mengenal sosok itu,sangat mengenal.Mendadak kakiku bergetar,keringat mulai mengucur bak olahragawan yang finish dari lari 500meter.Aaahh…aku benci ini, aku benci setiap bertemu dengannya. Karena setiap itu pula kualami hal yang sama. Dia semakin dekat, aku mencoba tersenyum semanis mungkin saat dia menyapaku. Bibirku jadi ikut bergetar.Malunya aku….tapi siapa peduli??Niko sekilas memandangku.
Tapi menunduk lagi.
“ada apa ,Ko?” kuberanikan untuk bertanya.Dan ternyata pertanyaanku membuatnya kaget.
“eehh…anu..” ia terlihat sangat gugup.Ayolaah…katakan itu.Ia menggaruk-garuk kepalanya yang mungkin tak terasa gatal.
“eehhhmm…anu. A, aa…. aku..pulang dulu ya..” katanya sambil berlalu mengundurkan diri.Aku terpaku ditempat. Masih mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku yang ikut terbawa bersama perginya Niko.Kenapa?kenapa aku harus mengenalnya? kenapa pula Tuhan menciptakan laki-laki yang bahkan tak berani jujur dengan perasaanya.Bukan, aku bukan mengutuk atau mengumpat. Hanya sekedar mengungkapkan kekesalanku.
.“Izza..lama banget??tidur kamu?”Aku tersentak,bahkan aku tak sadar kalau dua bocah plontos itu sudah berada di gerbang.
“Iyaa…bentar”kujawab dengan galak.Segera kuhampiri mereka yang sudah menungguku di gerbang sekolah.
.“Niko cakep ya??” Rana berbisik ke telingaku.Aku hanya melirik dengan sinis. Rana menanggapi dengan tersenyum dan mengangkat dua jari tangannya kode “peace”.
“Kapan majunya kalau cuma gitu-gitu aja?” Tiba-tiba Oji datang sembari menepuk bahuku. Bocah setengah alien itu dengan cueknya berpetuah,
“Tuhan itu memang adil ya. Adakalanya kita dibawah dan kadang juga kita di atas. Memang gak selalu yang seperti kita inginkan. Dan sekarang,kamu sedang  berada dibawah. Kamu bisa kok menghindar dari posisi yang jelas gak enak ini. Kalau kamu mau menyudahi semuanya. Hapus saja yang gak bisa diharapkan. Pergi dari Niko. Dan semua pasti beres.”Rana memandangku sambil mengangkat bahu.
“ada benarnya juga sih,buat apa mengharap yang gak pasti?” Claudy mendukung argument Oji yang sok tau.Sekali lagi Rana hanya mengangkat bahunya.
“Kenapa?” Aku meminta penjelasanHeran juga aku melihat kedua temanku ini yang bahkan tak mendukungku untuk melakukan hal yang  ingin kulakukan. Bagaimana bisa mereka disebut sahabat sejati? Belakangan mereka menyuruhku untuk menyerah sebelum mencoba.
Mencoba menakhlukkan anak Adam yang selalu terkurung dalam diam.“Karena masih banyak cowok lain yang bahkan lebih baik dari dia”Oji benar-benar meyakinkanku untuk melepasnya.Aku terdiam. Tak percaya kalau sahabat-sahabatku bisa mengatakannya.Ayolaah….dimana perasaan mereka? Apa mereka tak pernah merasakan hal seperti yang kurasakan?
“Dia mungkin juga tak benar-benar menyukaimu,aku yakin kalau dia tak pernah menyukaimu” Oji melanjutkan.Aku semakin tersentak. Darimana Oji mendapatkan pemikiran seperti itu?bukankah dia teman dekat Niko?Kemana perginya orang-orang yang peduli denganku…Aku sudah cukup bersabar dengan ocehan mereka. “Mungkin,mungkin dia gak bisa diharapin. Mungkin masih banyak cowok yang lebih baik dari dia. Mungkin juga dia tak menyukaiku. Aku tak tau itu… yang aku tau,aku akan selalu disini,untuknya..hanya untuknya. Untuk cowok kalian anggap tak bisa diharapin.”Aku cukup puas melihat mimic terkejut mereka.
“aku selalu disini. Karena hanya dia yang aku inginkan saat ini. Bukan yang lain!!! Dan karena inilah pilihanku”Mereka terdiam,seolah menyesali apa yang mereka katakan.Dan aku segera berlalu meninggalkan ketiganya dengan setumpuk kemenangan.Well,kadang hidup memang tak selalu sejalan dengan apa yang kita harapkan,itu benar.Hidup juga bukan hanya sekedar memberi dan menerima saja. Terkadang kita juga harus merelakan. Merelakan sesuatu demi seseorang yang berarti.. Kita hanya perlu menjaga hal yang telah kita miliki dengan baik.Kalau hanya merelakan sedikit waktuku untuknya,itu tak masalah bagiku.Aku sudah memilih. Dan inilah pilihanku. Suatu saat,Niko pasti datang kepadaku dan mengatakan semua perasaannya.
Aku yakin itu.It’s about me and my life.                                                   ^^
Aku masih menunggumu,Bicara….
Kunanti jawaban,Dihatimu…
Dalam diam ini…
Dalam gelap ini…
Ku masih menunggu.
Lagu dari salah satu band Indie Indonesia itu melantun perlahan dari radio di ponselku. Satu demi satu maknanya masuk lewat telingaku,dan menjalar kedalam hatiku.What is wrong in my mind?? Dari pagi hari sampai sekarang pikiranku  cuma terisi tentang Niko,Niko dan Niko.
“cinta bisa membuat orang melakukan hal gila”
Mungkin kutipan kalimat klise dari film animasi Alladin itu dapat mewakiliku saat ini.Dunia memang sudah terbalik. Seorang player yang bahkan tak bisa mencintai dengan tulus,kini telah bertekuk lutut kepada seseorang yang indifferent. Begitu indifferent sehingga butuh waktu yang lama dan pengorbanan yang tak kecil untuk membuatnya “ngeh” dengan kehadiranku.Ya,hanya untuk itu. Sekedar untuk membuatnya menengok kearahku. Untuk membuatnya tersenyum??itu butuh usaha lagi. Dan jangan berfikir untuk membuatnya mau berbicara banyak tentang hidupnya dalam waktu dekat ini,karena dia bukan tipe orang yang terbuka dan dengan mudahnya menceritakan hal-hal yang menyangkut privacinya.
Pernah suatu waktu aku mengajaknya keluar saat liburan sekolah,dia hanya menjawab,”ya,jika aku tak sibuk”.
Aku fikir ada harapan mau,tapi ternyata setelah ajakan itu,dilayar ponselku tak pernah muncul message-nya selama liburan itu,selama dua minggu.Dan belakangan aku tau kalau dia melakukannya karena tak mau keluar,itu sebagai tanda penolakan ajakanku secara halus dan tak langsung mungkin.Bahkan dia tak sampai hati untuk menolak ajakanku. Sungguh,tak pernah kutemui laki-laki semacam ini. Dan mungkin inilah yang membuatku melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Perhatian dari seorang anak Adam yang sangat indifferent.Sampai nanti,sampai dia mengerti….Seberat apapun beban yang harus kupikul,sejauh apapun aku harus melangkah untuk menggapainya,dan setinggi apapun jiwa yang berada dalam dirinya bernaung,selama darahku ini masih mengalir dan selama Tuhan masih mengijinkanku bernafas di bumi untuk melihat senyumnya,tak akan ku hilangkan rasaku ini untukknya.
Tak akan ada kata menyerah sebelum dia yang menyuruhku,atau mungkin keadaan yang memaksaku. Apapun yang terjadi,dia akan selalu dihati. Selalu…!!!
!♥♥♥
“Putih abu-abu,ayo semangaaatt…!!!!”Kakak kelas yang kebetulan lewat meneriakiku dengan semangatnya.Tak membantu,aku bahkan sudah loyo dengan pelatihan PBB yang membosankan ini.Hormat,Langkah tegap,Istirahat ditempat,dan segudang aba-aba berbaris lainnya telah berputar-putar dikepalaku selama tiga hari ini,tentu saja akupun sudah bosan mendengarnya.
Ditambah matahari yang begitu terik,begitu menyengat diubun-ubunku.Tapi seketika panas terik yang aku rasakan hilang berganti sejuk. Sejuk yang dibawa bukan oleh embun,bukan pula oleh angin semilir di lapangan rumput ini,tapi oleh seorang anak Adam yang tak pernah berhenti menghantuiku selama ini.Niko.Sampai suatu hari nanti,sampai kau mengerti,Niko. Aku ada disini dan selalu ada disini. Untuk siapa lagi?hanya untukmu…Ditengah huru-hara lapangan gladiator inipun aku masih sempat memikirkannya.
Sungguh otak bebal yang hanya terisi oleh namanya. Sungguh benar adanya lagu dari Afgan,”wajahnya mengalihkan duniaku”. Ya,wajahnya benar-benar telah mengalihkan duniaku. Ditambah lagi sepasang kornea yang seperti selalu bercahaya dimatanya itu.Perlahan-lahan seulas senyum tersirat dibibirku,rasanya begitu bahagia masih dapat melihat senyumnya,wajahnya,dan semua keindahan yang ada padanya. Karena aku tak pernah tau,masihkah ada hari esok untuk melihatnya lagi.Sungguh,dialah anugerah Tuhan yang terindah setelah hidupku.Bukankah aku pemuja yang fanatic??
“Hai Za…..ngelamun aja”  sapa Claudy setelah pasukan dibubarkan. Rana mengekor dibelakangnya sambil mengibas-ibaskan topinya,mungkin kegerahan.Aku melirik Rana sejenak,lalu kembali memandang Niko.
“Ada keajaiban dunia ke delapan Sob..” kataku. Mataku tak henti menatap sosok Niko. Agaknya dua orang manusia disampingku itu tau,mereka melihat kearah pandanganku.Rana mengernyit,mulutnya komat-kamit berkata sesuatu. Kemudian memandangku. Aku dan Claudy menatapnya.
“Kenapa?” tanyaku sengit.
“Bingung” jawabnya singkat,seperti menggantung kata-katanya. Ia membersihkan dudukan disamping musholla. Tangannya ia tepuk-tepukan ke dudukan itu. Menyuruhku dan Claudy duduk.
“Bingung. Gimana ceritanya sih kamu bisa tergila-gila sama cowok jayus yang super duper cuek itu?? Bahkan cowok berpangkat yang terkenal di sekolahpun kamu tolak. Hanya untuk cowok cuek kayak dia? Come on…” Rana melanjutkan kata-katanya.
Ketua OSIS itu? Ayolah Rana….dia bukan orang yang kuharapkan..Dan pangkatnya itu tak akan membuatku luluh.Lagipula,aku tak kan sampai hati melihatnya teralu berharap padaku.
“Jadi…” katanya sambil memasukkan bubble gum ke mulutnya.”sudah game over nih cerita plagirlnya?tapi jatuhnya sama cowok kayak gitu?”
What???adakah yang salah dengan menyukainya?tidak,tidak hanya menyukai. Tapi juga menyayangi. Adakah yang salah? Nada bicara Rana seperti mengejekku dan semua usahaku. Isn’t it??
“Dia bahkan tak menghiraukanmu. Berharap dekat dengannya?mustahil.” kata Rana dengan entengnya. Sambil terus mengunyah-ngunyah permen dimulutnya.
”Buka matamu,Izza….banyak yang lain. Dia seperti tak menganggapmu,bahkan tak pernah membuatmu senang” lanjutnya lagi sok tau.Darimana pula dia bisa tau aku tak pernah dibuat senang oleh makhluk indah itu? Bisa melihatnya setiap pagi-pun aku sudah merasa sangat senang. Tapi Aku diam saja. “Pernahkah beratus-ratus puisi yang kau berikan padanya itu mendapat balasan??tidak..!!!!”
Hey,kali ini aku akui perkataannya memang benar. Puisi-puisi itu memang tak pernah mendapat balasan dari penerimanya. Walaupun tak sampai beratus-ratus yang aku kirimkan padanya.
.“ Pernahkah kau diajaknya keluar?tidak kan?.” Lanjutnya.Ya,memang tidak. Dan aku tak pernah berharap dapat keluar  dengannya setelah peristiwa beberapa hari yang lalu.
“Atau pernahkah dia berkata sayang padamu?mustahil…ya,mustahil.” Katanya diplomatis. Ia mengangguk-angguk dengan yakinnya. Mustahil??adakah hal yang mustahil di dunia ini?adakah hal ajaib yang tak bisa dilakukan peradaban manusia dalam sejarah hidupnya?kalau saja Rana mengerti semua itu. Dan kalau saja Rana tau kalau kalimat “sayang” itu berkali-kali muncul diantara aku dan Niko. Walaupun hanya dari pesan singkat.
Tapi aku percaya itu,dan kepercayaan itu begitu besar hingga membuatku selalu tegar menunggunya.Inilah ujian Tuhan.. Sahabatku sendiri meragukan usahaku dan meragukan Niko. Bahkan aku sudah menunggu berbulan-bulan. Masih diragukan-kah? Claudy hanya memandang Rana,lalu seperti berfikir.
“Kapan terakhir kali dia mengirimu pesan?seminggu yang lalu kan?” sambungnya dengan penuh semangat. Matanya menyala-nyala. Aku diam saja,tak ku tanggapi.
“Apa kau masih mengharapnya?”tanyanya.
Ia menganggap teori-teorinya itu benar. Dan aku memang selalu mengharapkan Niko. Karena dia juga yang meminta kesempatan untukku. Kesempatan untuk mengatakan semua itu,rasa itu. Entah kapan.
“Sampai kapan kau akan begini?” kini ia seperti mencela usahaku.Rana menunduk.
Menghela nafas lalu menatapku dalam,lama. Seperti tersirat rasa prihatin didalamnya. Mimik wajahnya berubah sendu.
“Aku hanya tak ingin kau mengalami hal sama seperti Claudy” katanya lirih. Ada penyesalan disitu,penyesalan atas kata-katanya tadi. Oohhh….Rana. aku tahu kau tak bermaksud seperti itu. Aku terenyuh juga mendegar kata-kata itu.
Kisah Claudy???benar-benar kisah yang mengharu biru. Claudy harus berpisah dengan Miko—–yang notabene adalah kembaran Niko­—-karena keadaan. Jika ada yang harus disalahkan,maka keadaanlah yang patut disalahkan.Keadaan membuat mereka harus merelakan hubungan mereka teriris perih,bukan karena luka. Keadaan membuat Miko harus rela meleburkan cinta pertamanya. Keadaan pula yang memaksa Claudy meninggalkan orang yang begitu ia cintai itu. Dan kini ia harus rela sakit hati dan memendam perasaan yang selalu ada untuk Miko itu,ditambah lagi kini dia satu kelas dengan Miko. Claudy memandangku. Ia mengangguk membenarkan. Barangkali itu pula yang membuatnya sedari tadi hanya diam.
“Percayalah,semua kan baik-baik saja. Niko lelaki yang baik. Aku yakin itu” kataku meyakinkan.
“Tapi apa kau tak lihat? Niko seperti tak menghiraukanmu..” sangkal Rana.Niko memang seperti itu kan?tapi aku yakin kalau dalam hatinya selalu ada namaku. Dan keyakinan itu pula yang membuatku tetap bertahan.
“Apa kau yakin masih ada perasaannya itu untukmu,Za?” Tanya Claudy bijak. CLaudy mempertanyakan keyakinanku. “Ya” jawabku yakin seyakin-yakinnya. Claudy tersenyum,begitu juga Rana. “Ayolaah….Nothing is imposibble..”Kataku semangat.
“Niko?pasti bisa.kalian tau?Niko itu seperti tembok yang besar dan kukuh.” Kutirukan ucapan Arai di novel sang pemimpi.” Segala cinta dan usahaku ini ibarat melempar Lumpur ke tembok itu..”kataku diplomatis.
“Apa kalian fikir akan rubuh tembok itu?” tanyaku.Keduanya hanya memandangku. Rana menggeleng kecil. “Tidak,tidak akan. Tapi pasti akan membekas,selalu membekas..”  simpulku teoritis. Teori yang benar-benar bermakna bagiku. Dan bagiku,itu benar adanya.Keduanya lantas berpandangan. Menghela nafas panjang. Lalu memandangku yang masih bersemangat. “Biarkan sajalah aku tetap begini,tetap mengagumi Niko dan tetap menunggunya”  kataku sambil memandang Niko yang duduk diseberang.Aku tersenyum. Ku katakan lagi dengan optimis,dengan penuh keyakinan.
“Niko pernah bilang kalau perasaan itu masih tetap untukku. Masih ada untukku. Dan aku percaya itu” kukatakan sambil tersenyum lebar. Benar-benar sebuah keyakinan yang tak akan pernah padam dibenakku. Keduanya mengangguk-angguk.
Sekarang yakinkah mereka kalau aku benar-benar menyayangi laki-laki cuek dan pendiam itu?? Bukankah dulu aku pernah bilang kalau dia akan selalu dihati dan aku tak akan pernah menyerah?? Ingatlah itu,,teman!!!!Pandanganku tertuju pada seorang gadis putih yang cantik dengan rambut sebahu. Ia tersenyum sambil memandang malu seseorang. Yang mebuatku hampir tersedak ludahku sendiri,seseorang itu adalah Niko.Ya,aku bisa melihat dengan jelas kalau adik kelasku itu tersenyum kearah Niko. Niko menanggapinya dengan tersenyum kecil pula. Bagaimanapun, Niko tersenyum juga kepadanya,entah karena sekedar attitude atau Niko menyukainya.Aku memalingkan wajahku.
Tak sudi juga aku melihat pemandangan yang jelas tak indah itu. Belum saja aku beranjak dari tempat dudukku,suara sorakan anak-anak dari sebuah tempat membuatku mengurungkan niat. Sialnya,tempat itu adalah tempat dimana Niko duduk sambil tersenyum simpul pada gadis putih yang harus kuakui lebih cantik dariku. Bola mataku hampir saja keluar karena melotot melihatnya. Suhu di kanan kiriku mendadak meningkat,memanas. Dengan gaya sok lugu-nya,gadis itu menyuruh teman-temannya diam. Ia menaruh telunjuknya didepan bibirnya. Cihh,siapa pula dia??begitu fasihnya menari-nari diatas penderitaan orang. Tak taukah dia jika orang yang telah menunggu Niko selama beberapa bulan ini melihat semua tingkahnya dari jauh? Dan jika orang itu tak sungkan,dia bisa saja mendatangi gadis itu,menjambak rambutnya dan menariknya agar menjauhi Niko. Tapi tidak,hal yang akan mubazir saja,percuma. Toh,Niko juga tak akan lari mendatangiku dan meminta aku menjadi pacarnya kan jika aku melakukan tindak kriminal itu?Gigi-gigiku sudah saling menggerutuk,ingin mengunyah mentah-mentah daging gadis putih itu. Aku hanya bisa misuh-misuh melihatnya. Sambil sesekali melampiaskan kemarahanku dengan mencela gadis itu. Claudy dan Ranamembiarkanku,hanya mengelus-elus pundakku. Berharap kemarahanku reda.Aku sadar benar,bukan hakku untuk marah akan hal itu.
Rana menghalangi pandanganku,ia berdiri didepanku,”Sudah aku bilang kan?”
Claudy dan Rana membiarkanku,hanya mengelus-elus pundakku. Berharap kemarahanku reda.Aku sadar benar,bukan hakku untuk marah akan hal itu.
Claudy menyenggolnya,seperti memberi isyarat kalau Rana berkata salah. Rana memanyunkan mulutnya.
“Kan??bener kan kalau cewek itu suka Niko?aku sudah pernah bilang kan..” katanya sambil melihat Niko yang beranjak dari tempat duduknya.
“Tapi dia gak bakal tergoda kok…kamu yakin kan?” lanjutnya.Aku mengangguk.
“ya..” jawabku mantab. “Kita serang aja tuh anak kelas satu” cetus Rana dengan semangatnya.
“Serang,serang. Kepala kamu tuh yang diserang..” aku mencubit tangannya. Dia mengusap-usap tangannya,kesakitan.Ahh,biarkan sajalah gadis itu mengejar-ngejar Niko.
Biarkan juga teman-temannya itu menyorakinya sampai puas,tapi biarkan juga keyakinanku ini tetap berdiri kokoh ditengah semua itu. Keyakinan akan perasaannya yang tak pernah runtuh. Lagipula,bukankah gadis itu juga punya hak untuk menyukai Niko?aku tak kaget,karena Niko memang tampan. Dan itu pula salah satu faktor yang membuatku berat untuk melepasnya. Aku beranjak dari musholla,menuju parkiran. Semangatku sedikit luluh juga,ada sedikit rasa takut kehilangan Niko. Percaya diriku kini menurun drastis. Niko,seorang laki-laki yang menyimpan beribu keindahan didalamnya,mampukah aku bersamanya? Aku menengok kebelakang. Kulihat gadis itu mengatakan sesuatu pada Niko.Lebih baik aku hengkang dari tempat itu dan pulang. Kulangkahkan kali ke parkiran. Tanpa ku tau Niko terus menatapku yang semakin menjauh. Ada ketakutan pula diwajahnya,entah apa. Niko adalah sebuah puzzle yang harus kupecahkan. Dan kini,sedikit demi sedikit bagian dari puzzle itu mulai dapat ku rangkai.
♥♥♥♥
“Jika cinta memanggilmu,maka datanglah walaupun jalannya berliku. Dan pabila sayapnya merangkulmu maka pasrah dan menyerahlah walaupun pedang berada di sela-sela sayapnya melukaimu”
Sebuah kalimat dari kahlil Gibran yang selalu terngiang dalam kepalaku,kalimat itu benar adanya.Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur begitu saja,seragam masih melekat. Dadaku terasa panas dan sesak,panas karena terik mentari terlalu lama menyinariku yang selalu menunggu,dan sesak karena beban yang semakin bertumpuk. Seribu Tanya bahkan menjejali kepalaku yang terasa semakin berat ini.
Kemana Niko selama ini?bahkan kau tak pernah lagi melihat senyummnya itu menyambutku dikala pagi. Masihkah dia seperti yang dulu?yang memiliki perasaan lebih terhadapku walau tak harus mengungkapkannya. Akankah kisahku ini harus usai sampai disini bersama semua mimpiku tuk bersamanya?sejahat itukah dia yang membirakanku terkatung-katung didalam samudera penantianku? Mungkinkah dia telah memilih gadis cantik itu? Ahh,sungguh Tuhan menciptakan laki-laki itu mungkin memang bukan untukku. Arrggghhhh,lagi-lagi ragu yang telah lama kubuang itu datang lagi. Tapi kali ini lain,ragu yang begitu nyata dan sulit kuhapus..kepercayaan yang telah kubangun itu,runtuh seketika.
♥♥♥♥
“Woee,ngelamun aja..”Rana mengagetkankuKutanggapi dengan tersenyum saja.Saat itu halaman tengah cukup ramai oleh lalu lalang anak-anak. Memang ini saatnya untuk pulang.Aku sengaja tinggal dulu sejenak di halaman tengah ini bersama Claudy dan Rana.
“Za…” seseorang memanggilku.Sebuah suara yang ku kenal,sangat kukenal.Aku menoleh ke asal suara itu. Betapa terkejutnya aku,Niko lah yang memanggilku. Spontan aku tersenyum semanis mungkin. Dia berdiri sekitar 5 meter dari tempatku duduk,tersenyum pula.Lalu ia membalikkan badan,melangkah pergi.
“Niko…tunggu”Kucegah dia pergi. Entah kekuatan apa yang mendorongku memanggilnya. Kuhampiri dia,setengah berlari.
‘Aku pengen ngomong” kataku
“apa??” seperti biasa,tetap dingin. Sambil sedikit melangkah mundur,menjaga jarak denganku. Seperti itulah Niko. Niko yang ku suka.Di sekelilingku cukup banyak anak yang lewat. Tapi kubiarkan saja,sambil menikmati pandangan iri dari para adik kelas yang melihatku dekat dengan Niko.
“ soal anak kelas satu itu….”
“ Riri?” belum juga aku selesai mengatakan,dia sudah bisa menebak.Aku mengangguk.
“ Katanya, dia dekat dengan kamu,benar?” “ kata siapa? Kata orang kan?bukan kataku” kata-katanya mengena sekali. Masih dengan gaya dingin-nya. Aku menunduk.
“ dan….apa…kau masih??maksudku…ehm…..”Berat sekali menanyakannya. Argh,gunakan kesempatan ini Izza,kata hatiku. “maksudku…….itu….apa masih ada rasa itu,Ko?”Aku menunduk saja.Niko maju selangkah. Mendekat.
“ masih,tentu masih. Hanya saja ada sesuatu yang membuatku tak berani megakuinya” katanya serius. Dengan wajah dingin dan pandangan mata tertuju padaku.Kaget juga aku saat dia bilang seperti itu. Ku kira dia tak bisa serius.Aku mendongak. Kini dapat kulihat wajahnya yang indah itu dengan jelas. Degup jantungku serasa berhenti berdegup sejenak. Seperti ada sesuatu aneh yang menjalar di nadiku. Membuatku serasa terbang.Tatapan mata itu… aahh….aku menyukainya!!!
“ tapi kenapa?” tanyakuNiko menghela nafas.
“ karena……”Ia mengalihkan pandangan ketempat lain. Lalu memandangku lagi.Aku melihatnya dengan penuh harap. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan dimulutnya.
“apa?” tanyaku lagiAgaknya dia tak nyaman dengan suasana disini yang penuh lalu lalang anak-anak lain.Kupandangnya lagi. Kupasang raut se-penasaran mungkin.Dia hanya tersenyum kecil. Mengangkat bahunya.
“aku pulang dulu,ya” pamitnyaAku hanya mengangguk. Dia pergi. Kuhela nafas panjang.
“ sabar Za…” kataku dalam hati.Ya, itulah Niko. Niko yang penuh dengan tanda Tanya dalam setiap geraknya. Niko yang selalu menjadi sosok yang dingin dan misterius untukku.
^^
JJJKutelusuri jalanan trotoar yang becek karena hujan. Terkadang tak sengaja ku injak kubangan air yang menggenang. Berkali-kali aku harus membersihkan kakiku karena lumpur yang ikut memercik. Hujan….500meter dari tempat kursus bahasa asingku,dan kini bajuku sudah basah.
“Za..” seseorang memanggilku ditengah guyuran hujan yang semakin deras.Aku menoleh.
“Niko??” tanyaku. Dia mengangguk dan berjalan kearahku.Ditariknya tanganku kebawah payung yang dibawanya.
‘”kamu juga masuk bimbel??” tanyaku. “kok jalan kaki??”.Lagi-lagi dia hanya mengangguk. Kini aku sepayung dengannya. Dan ini membuat jantungku berdetak tak menentu.Kami menyusuri jalanan itu.
“Niko…..kita ini apa sich??” kataku memulai pembicaraan.Dia menatapku tak mengerti.
“maksudku…apa kamu gak sadar udah nggantung aku 8bulan?”Kuberanikan bertanya. Dia seperti terkejut mendengar pertanyaanku.
“ kamu marah sama aku?” tanyanya.
“ gak..aku gak marah sama kamu. Cuman…kamu mau ngebiarin aku gini terus?”
“ lalu,apa yang harus aku lakuin?” dia menghentikan langkahnya. Membuatku harus berhenti juga.
“ kamu harus bilang…” kataku menunduk
“aku bener-bener suka kamu”  suara petir menelan kata-kata Niko. Sebenarnya aku mendengarnya mengatakan itu. Tapi untuk memastikan,kutanya lagi.
“apa?” tanyaku pura-pura tak mendengar. “ aku………..suka…………….kamu………………” jawabnya sedikit berteriak.Kini petir menyambar dadaku. Dan gemuruhnya menjalar keseluruh tubuhku.
“Baiklah,sedikit lagi Izza…!!!” kataku dalam hati.
“lalu??status kita?” tanyaku
“ kalau kamu mau ya pacar…” katanya sambul menunduk malu.Geli juga aku melihat ekspresinya.
Aku berpura-pura berfikir.
“ yaa…aku mau” jawabku.Dia tersenyum.
Senyum yang kucinta. Dia menarikku agar kembali berjalan. Bahkan aku hampir lupa kalau kami harus pergi bimbel. Aku tak tau apa reaksi anak-anak melihatku sampai ke tempat bimbel dengan basah kuyub bersama Niko. Yang aku tau,kini Niko kekasihku. Ya,kekasihku.Dan aku akan selalu mencintainya. I LOVE U,NIKO…!!!!!

Perihal muhammad habibi
Saya adalah siswa SMAN 1 Sangatta Utara

3 Responses to CERPEN : Cinta Putih Abu-Abu

  1. rhey_tea mengatakan:

    heyy…that’s look likes my short story. dari cerpen.net kah??
    that is my story..!!!!

  2. kolomkiri mengatakan:

    cinta itu manis, asam, asin rame dah pokoknya…

    • abycinta mengatakan:

      saya setuju CINTA ITU BERJUTA RASANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: